Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Seksualitas dalam "Keluarga Bahagia"


Pernah pada sebuah kesempatan saya terlibat pembicaraan dengan seorang kawan. Rencananya kita akan membuat sebuah film dengan konten kekerasan yang tinggi. Dia tahu bahwa salah satu kegemaran saya adalah sajian penuh kekerasan dengan berliter-liter galon darah menjadi bagian esensial. Tidak hanya tahu, dia bahkan memberikan dukungan, dimana salah satu bentuknya adalah bersedia untuk terlibat dalam proses tersebut. Kemudian hadir pementasan “Keluarga Bahagia”, dan kawan saya tersebut memberikan kritik tentang keberadaan konten seksual yang (katanya) tinggi dalam naskah tulisan saya itu. Kekhawatiran mulai dari aspek seksual yang dianggap tidak substansial, hingga merasa pementasan tersebut hanya akan berujung sebagai tontonan porno diutarakan. Respon pertama saya adalah bingung, “kenapa orang yang bisa menerima sajian kekerasan eksplisit justru gerah dengan seksualitas vulgar?” Apakah artinya kekerasan jauh lebih bisa diterima daripada seks? Mungkin begitu. Sebagai contoh adalah The Raid. Film itu mendapat puja puji masyarakat karena kekerasan yang ditampilkan, tapi coba ganti sisi brutal tersebut dengan seks. Apakah respon positif juga yang akan muncul?

Ganti darah dengan cairan lain berwarna putih, apakah respon sama?
Berkaca pada “Keluarga Bahagia”, banyak pihak beranggapan adegan seks bisa dikemas lebih implisit atau bahasa mereka “lebih artistik”. Kata “artistik” khususnya di Indonesia pengertiannya bisa begitu buram. Seringkali demi membuat suatu karya yang artistik, sang maker melupakan substansi dan lebih mementingkan gaya, istilahnya style over substance. Entah sudah berapa banyak karya visual (khususnya film) yang mengorbankan kekuatan penceritaan hanya demi berfokus menyajikan gambar-gambar indah. Tengok saja 5 cm dengan segala keindahan panorama alam tapi ceritanya busuk. Atau kalau berkaca pada Hollywood silahkan lihat romansa adaptasi novel Nicholas Sparks yang sinematografinya top-notch tapi ceritanya seperti dibuat oleh anak SMP galau yang setiap hari menulis puisi untuk wanita idamannya tapi tidak pernah punya keberanian untuk mendekati--maksimal hanya masturbasi.

"Dear John"; gambar indah, cerita payah
Intinya adalah substansi. Adegan seks eksplisit selama delapan menit di Blue is the Warmest Color bukan alat pemancing gairah seksual penonton, tapi berguna sebagai alat observasi karakter. Kita diajak melihat bagaimana hasrat yang timbul dalam hubungan dua karakter utamanya, bagaimana pula passion dalam percintaan wanita muda yang nafsunya terus dipendam. Untuk kesan romantisme serupa silahkan tunggu A Copy of My Mind-nya Joko Anwar yang bakal menampilkan Tara Basro dan Chico Jerikho berhubungan seks, lengkap dengan sperma keluar dari pal-kon sang aktor. Joko Anwar hanya pamer gaya? Bisa, tapi itu sama saja Nikita Mirzani adalah seorang guru ngaji. Mungkin? Ya mungkin, tapi hampir mustahil. Lalu apa substansi “Keluarga Bahagia” sehingga diisi beberapa adegan seks yang (katanya) vulgar? 

Silahkan tunggu yang satu ini
Bayangkan semua itu dikemas secara simbolik, mungkin penonton akan bergumam “oh indahnya..!”, tapi apakah mereka tertohok oleh realita yang dipaparkan? Bisa saja, tapi tidak sebesar itu. 

Keindahan bertutur juga bisa merusak esensi rasa yang coba dibangun. Rasa bahwa tidak seindah itu konflik yang tengah disajikan. Menyajikan konflik raw secara indah bagi saya sama saja membuat kisah tentang Ir. Soekarno sang proklamator yang penuh semangat tapi dikemas secara mellow. Tidak selaras. Itu salah satu alasan kenapa sineas asal Denmark, Lars von Trier memunculkan gerakan Dogma 95 yang berisikan film-film dengan production value rendah cenderung amatiran (mayoritas diambil dengan Canon 550D). Film-film tersebut (ex: Festen, The Idiots) ceritanya banyak "menelanjangi" kehidupan sehari-hari secara kasar dan apa adanya. Lars von Trier percaya metode tersebut lebih kuat untuk mengikat penonton karena mereka tidak terdistraksi oleh production value yang tinggi, sehingga hanya berfokus pada cerita serta karakter.

"The Idiots"
Banyak pula yang beranggapan “Keluarga Bahagia” tidak berbeda dengan porno. Lagi-lagi saya bingung, kali ini dengan pengertian porno. Semua pernah menonton film porno, tapi apakah ada yang konten seksualnya tidak sampai 25%? Bahkan Nymphomaniac dengan presentase adegan seks tidak sampai 40% saja bukanlah sebuah porno. Kata porn merujuk pada dominasi suatu aspek yang dieksploitasi dalam suatu karya. Sebagai contoh, Saw itu disebut torture-porn dan Chef adalah food-porn. Bahkan untuk masuk ranah genre “eksploitasi” pun pementasan ini tidak bisa digolongkan pada sexploitation (Nymphomaniac saja belum masuk kategori ini). Entah itu porn maupun exploitation baru bisa disematkan pada sebuah sajian yang didominasi secara berlebih oleh suatu aspek. Bisa saja “Keluarga Bahagia’ masuk dalam sexploitation, tapi lebih merujuk pada kentalnya unsur disorientasi seksual, bukannya pemaparan adegan seks yang vulgar. Sebagai perbandingan silahkan tonton drama-thriller asal Prancis berjudul Stranger by the Lake,  salah satu film dengan penyajian seksual paling vulgar yang pernah saya tonton, dimana itu juga belum masuk kategori pornografi.

Percayalah ini BUKAN PORNO
Artikel ini bukan bermaksud memberikan pembelaan bahwa naskah tersebut adalah naskah yang bagus. Tentu banyak kekurangan, dan perkara suka atau tidak itu sudah terserah masing-masing penonton. Jika ada yang berkomentar tentang struktur plot, karakterisasi atau dialog, saya pun merasakan kekurangan serupa. Apa yang saya garis bawahi dalam tulisan ini adalah bagaimana banyak pihak memberikan “cap” yang sama sekali tidak akurat. Hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk kasus “realis atau surealis” di 'Romantika dalam Gelap' dua tahun lalu, tapi pembahasan tentang itu rasanya sudah kadaluarsa. 

Sedangkan bagi kalian semua yang ingin berkarya khususnya dalam penulisan, tidak perlulah takut akan tanggapan miring jika ada esensi kuat yang coba dituturkan. Asal kalian merasa adanya keterikatan/setuju terhadap sesuatu yang coba diangkat, sah-sah saja. Masih begitu banyak aspek kehidupan di luar sana yang belum sempat tergali karena dianggap tidak layak oleh masyarakat luas. 

(Rasyid R. Harry)

Rabu, 17 Juni 2015

Mengulas Proses: Pentas Besar 'Keluarga Bahagia'


Pentas Besar KRST tahun 2015 ini mengusung naskah garapan Rasyid Harry dengan lakon “Keluarga Bahagia”. Naskah hasil buah pikir Rasyid dan Iqbal—sebagai sutradara—ini berisi tentang kehidupan sebuah keluarga seperti pada umumnya. Hanya saja, dalam cerita ini, Rasyid mengambil sudut pandang lain dari makna sebuah keluarga. Sebuah keluarga dengan masalah yang mungkin sebenarnya dimiliki oleh beberapa keluarga pada umumnya, namun tidak diutarakan ke publik karena alasan moral dan norma. Yah, begitulah sekiranya salah satu bagian dari informasi yang ingin KRST sampaikan pada penonton melalui pementasan pada hari sabtu, 6 juni 2015 lalu. Pementasan yang dilaksanakan di Stage Tari Tedjokusumo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut membuahkan hasil yang cukup memuaskan, baik untuk penonton maupun keluarga besar Keluarga Rapat Sebuah Teater sendiri.

wefie. teater kekinian :D

diskusi terbuka pasca pentas
Sedikit mengulas tentang proses dibalik pementasan “Keluarga Bahagia”, tentu saja yang paling menarik perhatian adalah kesediaan aktor untuk memerankan dan mempertunjukkan isi naskah yang dianggap cukup “vulgar” untuk dihadirkan keatas panggung. Proses seleksi pemain tidak berlangsung mudah, tetapi konsep yang ditawarkan oleh Iqbal akhirnya mampu meyakinkan ke-6 aktor untuk kemudian lanjut memainkan peran yang ditawarkan. Awal berjalannya proses cukup berat. Tidak dipungkiri pula bahkan beberapa panitia penyelenggara sedikit meragukan isi naskah tersebut. Tapi proses tidaklah bermakna tanpa kerikil-kerikil didalamnya. Keberhasilan akan terasa begitu manis ketika berhasil melewati kerikil-kerikil itu. Hal itu pula yang dirasakan oleh KRST, terutama tim “Keluarga Bahagia”.

latihan di G400

evaluasi pasca gladi bersih

credits pasca pentas (dok. BPPM Psikomedia)
Proses ini berlangsung kurang lebih 6 bulan, terhitung sejak November 2014. Seluruh kerja keras tim produksi dan artistik tentunya memberikan pengaruh sangat besar dalam keberhasilan pentas besar ke-9 KRST tersebut. Kurang lebih 50 orang yang turut menuangkan tenaga, pikiran, dan semangatnya kedalam proses ini. KRST juga bekerja sama dengan Teater Sangkala, selaku tuan rumah Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Sanggar 28 Terkam, ISI Yogyakarta, dan beberapa komunitas kampus serta kerabat KRST. Hal menarik lainnya juga tertuju pada kreativitas yang tertuang pada setting rumah yang dihadirkan oleh sutradara diatas panggung. Begitu realis, begitu meyakinkan, seolah-olah membawa penonton kedalam kehidupan keluarga yang ada dipanggung itu. Detail-detail menarik seperti lukisan, patung kepala, hingga benda kuno seperti gramofon juga tak luput dari perhatian. Pentas ini terbilang berani dan sukses. Mengangkat realitas yang dianggap tabu keatas panggung dan memberikan suguhan yang benar-benar nyata tanpa adanya keraguan sedikitpun, jelas menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi sutradara. Bagi Iqbal selaku Sutradara, naskah “Keluarga Bahagia” ini memiliki begitu banyak makna yang harus disampaikan dan dirasakan, baik untuk semua penonton dan juga dirinya sendiri.

Namun, tentu saja setiap perjalanan menemukan pelajaran. Begitu banyak hal yang dapat diambil dan diperbaiki dalam proses kali ini. Banyak pula nilai-nilai yang bisa ditegakkan yang telah dihadirkan oleh pementasan ini. Semoga saja apapun itu yang telah dihadirkan dan dipersembahkan oleh KRST, dapat menjadi kebaikan tersendiri, yang kemudian hari bisa berbalik dan menyempurnakan diri KRST.


Teruslah belajar, teruslah berusaha, teruslah berkarya. Salam budaya! SHOW MUST GO ON!

(Eka Anggraini, 2015)


Selasa, 26 Agustus 2014

Kontribusi KRST dalam HALO PRK 2014

Tahun ini mahasiswa Psikologi UGM memiliki ide ‘liar’ dalam melaksanakan ospek fakultas. Kegiatan yang salah satu tujuannya adalah menyambut mahasiswa baru (maba) ini kita sebut PRK (Psikologi Rumah Kita). Tahun ini, KRST mendapat kehormatan untuk berkontribusi secara langsung dalam konsep baru yang diusung panitia ospek. KRST ditunjuk untuk membuat sebuah jingle untuk PRK yang nantinya akan dinyanyikan oleh para maba sebagai lagu tema dari keseluruhan acara ospek dan juga sebagai cerminan tujuan PRK tahun ini.

Akhirnya tim perumus jingle pun disusun, dan terdiri dari Vikra, Aga, Rifki, Tunggul, Bella, dan Nisa. Prosesnya cukup simple tapi hasilnya bisa kami banggakan. Vikra, Aga, Rifki dan Tunggul berproses di bagian aransemen musik, sedangkan Nisa bertanggung jawab dalam membuat gerakan, dibantu oleh Bella, yang juga berkontribusi besar dalam pembuatan lirik.

Berdasarkan arahan dari panitia PRK, kami hanya membuat 3/4 dari keseluruhan lirik. Kami sengaja mengosongkan bait ketiga untuk nantinya diisi lirik dan gerakannya oleh para maba.

Buat kamu yang penasaran seperti apa hasilnya, bisa langsung di cek disini atau bisa tonton video yang kami buat untuk maba di bawah ini:


Nah, yang menarik dari proses ini adalah kegiatan kami ketika hari H, yaitu pada tanggal 20-21 Agustus. Kami kira awalnya kami cukup membuat lagu dan merekamnya lalu nanti ketika PRK akan playback saja. Semacam acara Dahsy*t. Ternyata panitia meminta kami untuk mengiringi para maba bernyanyi dan menari secara langsung. Langsung. Dengan musik live. Itu artinya kami harus standby di kampus dari pukul 05.00 pagi, selama 2 hari berturut-turut. Karena sebagian besar dari kami sadar diri akan kelemahan dalam bangun pagi, kami memutuskan untuk menginap di kampus.

Akhirnya selama 2 hari berturut-turut, kami tidur berempat (Vikra, Aga, Rifky, Tunggul) di Bilik yang kecil nan hangat, lalu bangun jam 4 pagi, lalu mandi bergantian, lalu angkat-angkat satu set drum, 3 ampli, gitar, bass, 2 preamp, dan kibord, lalu checksound, lalu standby menunggu maba datang. Terimakasih sebelumnya kepada Afif yang bertindak sebagai manajer yang selalu turut hadir tiap pagi dengan aqua dan roti. Sangat membnantu.

Biasanya kami mulai main sekitar pukul 7 pagi. Ini lucu, sebab dimana fakultas lain membuka ospeknya dengan upacara dan sebagainya, kami membuka ospek dengan band-band-an. Sangar.

Yang membuat kami cukup puas dengan proses satu ini ialah respon positif yang datang berbondong-bondong dari berbagai kalangan. Testimoni seperti "wah jinglenya bagus banget", "musiknya asik!", "keren!" cukup akrab kami dengar. Bahkan di hari pertama kami memainkan jingle tersebut, Pak Rahmat selaku Wakil Dekan bidang Aset dan Pengembangan terlihat ikut manggut-manggut mengikuti beat dari musik yang kami mainkan. Dan juga Pak Naryo selaku protokoler fakultas, ikut mengabadikan kami dengan video kameranya. Setelahnya baru kami tahu bahwa para dosen dan staf sangat mendukung budaya ini dan khususnya menyukai jingle-nya.
Bahkan kami juga sempat diliput oleh surat kabar kampus lho..

Kami sih Alhamdulillah. Semoga kedepannya proses KRST makin dilancarkan. Amin!

sibuk mengakali agar suara drum tetap gahar dimainkan di hadapan dedek-dedek maba

KRST edisi pagi. Langka.

siap menggoyang dedek-dedek

check-sound tengah malam di kampus, demi performa maksimal

dedek-dedek yang sukses kami 'goyang'

Minggu, 24 Agustus 2014

(Bukan) Tugas Kenegaraan

Pada hari Minggu, 17 Agustus 2014 kemarin, KRST kembali diundang Intelektualita Luar biasa kan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tapi sayangnya bukan untuk tugas kenegaraan, melainkan menjadi pengisi acara halal bi halal berkat hasil promosi salah satu dedengkot kita, Mas Henri Arkan atau lebih dikenal dengan panggilan Mas Hengheng. Acara ini dilaksanakan di Pondok Puspita di daerah Alun-Alun Kidul. Kali ini Vikra (keyboard), Endi (bass), Aris (gitar), Tunggul (kajon), Monic, dan Ovin (vocal) yang siap membawakan lagu-lagu era 90-an.

Lebih dari 30 lagu sudah disiapkan semenjak H-1 nge-job. Kostum merah untuk vokalis diusung supaya semangat kemerdekaan dan suasana hangat dapat terbangun. Pukul 08.00 para personil sudah bersiap di kampus, pukul 10.30 cuss, dan pukul 11.00 sudah ready to perform di venue yang berumput. Karena diadakan di taman terbuka jadi semacam garden party gitu, suasana pepohonan rindang dan sepoi angin menemani alunan lagu yang dimainkan. Halal bi halal ini dihadiri oleh kira-kira 40 orang. Tidak sedikit hadirin yang ikut bernyanyi bersama sembari menikmati santap siang. Acara ini juga dimeriahkan oleh open mic dari MC dan pembagian doorprize unik. Beberapa personil kita ada yang dapet sabun sama keset lho. Hahaa… Tuan rumah puas, kita senang. Salah satu pengalaman yang seru, Fams! Pokoknya always enjoy what you do and you’ll be happy then. Salam masuk akal! J

bu monica terpantau sedang memberi arahan sebelum manggung,
"jadi tuh entar gas pol aja!!"

cek mental sebelum pergi manggung. sepertinya tidak sehat.

sedikit selfie sebelum genjreng!

garden party

-Ovin Safitri-

Minggu, 29 September 2013

Wisuda S1 [Agustus '13]


Setelah event AASP, KRST berkesempatan untuk ikut melepas salah satu anggota keluarga, Mas Putra (2008) dalam acara wisuda S1 yang diadakan di G-100 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Persiapan dilakukan bersamaan dengan berakhirnya event AASP pada 24 Agustus 2013 lalu.



Via dan Ama pada vokal, Tunggul pada gitar, Vikra pada keyboard, Debby pada bass, Aji pada cajon, serta Monic dan Aga sebagai sound engineer berhasil menghibur 55 mahasiswa S1 yang dilepas pada hari itu. Para dosen, orang tua mahasiswa, dan panitia yang terlibat dalam acara juga mengaku puas pada penampilan KRST. Salah satu panitia bahkan berkomentar, “Penampilannya bagus. Suara vokalisnya keren-keren ya.”

KRST Bersama Mas Putra Setelah Wisuda

Konferensi Dua Tahunan AASP (Asian Association of Social Pschology)

Tanggal 23-24 Agustus 2013, KRST mendapat kehormatan untuk berpartisipasi dalam sebuah konferensi internasional dua tahunan yang diselenggarakan oleh Asian Association of Social Pschology (AASP). Selain menghibur peserta konferensi ketika jam makan siang, dua band tampil pada pembukaan dan penutupan acara yang diselenggarakan di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini.

Saat pembukaan pada 23 Agustus 2013 di gedung GSP Universitas Gadjah Mada, KRST menampilkan anggota terbaiknya yang terdiri dari Mas Ardhi, Mas Endi, Mbak Devi, serta Mas Andre. Mereka juga berkolaborasi dengan Paduan Suara Mahasiswa UGM. Pada kesempatan tersebut, KRST membawakan dua lagu, yakni medley tanah air dan medley internasional yang terdiri dari lagu Kokoro No Tomo (Jepang), In A Rush (Amerika), No Me Ames (Spanyol), Jai Ho (India), Waka Waka (Afrika Selatan), dan Gangnam Style (Korea Selatan).

Sementara itu, sebelas anggota sub-trah seni musik terbaik lain dikerahkan untuk menghibur peserta konferensi saat acara penutupan. Ama, Monic, Imam, Via, dan Salma pada vokal, Aga dan Tunggul pada gitar, Iqbal dan Debby pada bass, Vikra pada keyboard, serta Aji pada cajon berhasil menutup acara konferensi dengan tiga lagu yang kental dengan nuansa ke-Indonesia-an, seperti Ampar-ampar Pisang yang berasal dari Kalimantan Selatan, Jaranan yang berasal dari Jawa, serta Rumah Kita yang menyiratkan tentang kebanggaan rakyat Indonesia terhadap tanah airnya. Kostum hitam dengan nuansa batik dipilih untuk memperkuat konsep.

Pengisi Closing AASP (dari kiri ke kanan)
Atas: Imam, Via, Ama, Salma, Monic, Aji
Bawah: Tunggul, Vikra, Iqbal, Debby
Rumah Kita - KRST
Selain membawakan tiga lagu bersama KRST, Imam, Vikra, Tunggul, Aga, dan Aji juga berkolaborasi dengan Angklung Universitas Padjajaran untuk menutup acara yang dihadiri 880 peserta dari 34 negara tersebut.

KRST Bersama Anggota Angklung Unpad



Minggu, 07 April 2013

Panggung Bebas Vol.3, 'Romance & Depression'


Baru saja kemarin, persisnya hari Jumat, tanggal 5 April 2013, kami mengadakan Panggung Bebas untuk yang ketiga kali-nya. Panggung Bebas kali ini diadakan di Selasar G-100, tidak seperti sebelumnya yang diadakan di kantin, lalu di kandang kuda kampus psikologi. Menurut Vikra, ketua acara ini, Panggung Bebas kali ini akan lebih menggali makna 'bebas' kepada penerapan yang lebih konkrit.

Panggung Bebas kali ini cukup spesial. Tidak hanya dari kampus Psikologi, kali ini kita juga mengundang teman-teman dari Sastra Budaya FIB, Sanggar Apakah FH, Economics Session Band FEB, dan banyak lagi yang diundang bahkan dari luar kampus UGM. Sayangnya belum semua menyanggupi untuk berpartisipasi. Di Panggung Bebas ini juga kita mengundang tamu khusus, Pak Peter, atau dikenal lebih dekat dengan julukan "John Lennon Jakal", yaitu seorang bapak paruh baya yang sering mengamen di area jalan kaliurang dengan membawakan lagu-lagu dari The Beatles.

Acara dimulai pukul 18.10 dikarenakan hujan deras, dan selesai sekitar pukul 10.40. Rasa kekeluargaan di acara ini benar-benar terasa. Berikut adalah dokumentasinya: 



aga & amri setting lampu dulu


setting panggung, suasana rintik-rintik


duo MC blacklist, ibeng dan rasyid, yang berhasil lolos untuk nge-MC di acara ini


acara dibuka dengan penampilan dari 'Suddenly A Band', band dosen+mbak rasti yang baru saja dibentuk sore itu


imam, diiringi oleh teman-teman, membawakan cover dari Batiga, 'Berharap'


joshua dengan saxophone-nya berhasil mencuri fokus penonton


mas ardhi dengan ekspresi panggungnya


duet ama-imam ditangkap dari belakang drummer


salah satu MC, ibeng, dengan cara-nya yang depresif, membawakan puisi di sela acara




band dari teman-teman 2012, 'Ndongski'


teman-teman dari 'Curly Band' berhasil tampil necis dengan beberapa lagu rock


duet maut imam-santi. imam laris yah :D


'The Gondrongs' tampil selow tanpa drummer


'Plastic Story' membawakan lagu dari Muse dan 'Sweet Disposition'


band cadas dari 2011, 'Fovea' juga tampil dengan format akustik


teman-teman dari Fakultas Hukum, 'Justimun', juga tampil syahdu dengan format akustik


tidak hanya band, ada juga penampil modern dance dari Destraya FIB. woww.


abil juga membawakan puisi tentang perantauan ke jogja


band rock cadas 'Kebiri Otomatis', yang membawakan lagu-lagu yang sing-along banget


FIREWORKS!!!


teman-teman dari ESB, 'Laura at The Balcony' ber-jazz ria


puncak acara, penonton berdiri, bernyanyi 'Fix You' bersama-sama yang dipimpin oleh The Additionals dari FIB. FIREWORKS AGAIN!!


malam tidak terlupakan, euphoria terus bertahan