Bagi saya, ini termasuk penampilan musik paling memuaskan selama saya berproses di KRST. Waktu itu tawaran datang dari teman-teman Fisipol UGM jurusan Hub. Internasional selaku penyelenggara. Kami diberi ketentuan untuk membawakan lagu mancanegara.
Band dadakan ini dihiasi oleh saya (gitar/kibord), Aga (gitar), Debby (bass), Putra (perkusi), dan Dennis (vokal). Pilihan lagu kami jatuh kepada 'Volare' oleh Gypsy Kings dan 'Let's Do It (Let's Fall in Love)' oleh Canal Fowkes.
Tidak puas dengan hanya bermain musik, kami sepakat bahwa kami ingin tampil beda. Maka pada H-1, Aga Dennis dan Putra bertandang ke Pasar Beringharjo dan membelikan kami berlima baju barong dengan warna yang berbeda-beda. Alhasil, the crowd loves us!
Acara diadakan di selasar GOR Klebengan, dan kami mendapat urutan tampil pas sebelum bintang tamu, yet the crowd loves us more. Video-nya bisa anda cek disini:
Pernah pada sebuah
kesempatan saya terlibat pembicaraan dengan seorang kawan. Rencananya kita akan membuat sebuah film dengan konten
kekerasan yang tinggi. Dia tahu bahwa salah satu kegemaran saya adalah
sajian penuh kekerasan dengan berliter-liter galon darah menjadi bagian
esensial. Tidak hanya tahu, dia bahkan memberikan dukungan, dimana salah satu
bentuknya adalah bersedia untuk terlibat dalam proses tersebut. Kemudian
hadir pementasan “Keluarga Bahagia”, dan kawan saya tersebut memberikan kritik tentang keberadaan konten seksual yang
(katanya) tinggi dalam naskah tulisan saya itu. Kekhawatiran mulai dari aspek
seksual yang dianggap tidak substansial, hingga merasa pementasan tersebut
hanya akan berujung sebagai tontonan porno diutarakan. Respon pertama saya
adalah bingung, “kenapa orang yang bisa menerima sajian kekerasan eksplisit
justru gerah dengan seksualitas vulgar?” Apakah artinya kekerasan jauh lebih
bisa diterima daripada seks? Mungkin begitu. Sebagai contoh adalah The Raid. Film itu mendapat puja puji
masyarakat karena kekerasan yang ditampilkan, tapi coba ganti sisi brutal
tersebut dengan seks. Apakah respon positif juga yang akan muncul?
Ganti darah dengan cairan lain berwarna putih, apakah respon sama?
Berkaca pada “Keluarga
Bahagia”, banyak pihak beranggapan adegan seks bisa dikemas lebih implisit atau
bahasa mereka “lebih artistik”. Kata “artistik” khususnya di Indonesia
pengertiannya bisa begitu buram. Seringkali demi membuat suatu karya
yang artistik, sang maker melupakan
substansi dan lebih mementingkan gaya, istilahnya style over substance. Entah sudah berapa banyak karya visual
(khususnya film) yang mengorbankan kekuatan penceritaan hanya demi berfokus
menyajikan gambar-gambar indah. Tengok saja 5 cm dengan segala keindahan panorama alam tapi ceritanya busuk.
Atau kalau berkaca pada Hollywood silahkan lihat romansa adaptasi novel
Nicholas Sparks yang sinematografinya top-notch tapi ceritanya seperti dibuat oleh anak SMP galau yang setiap hari
menulis puisi untuk wanita idamannya tapi tidak pernah punya keberanian untuk
mendekati--maksimal hanya masturbasi.
"Dear John"; gambar indah, cerita payah
Intinya adalah
substansi. Adegan seks eksplisit selama delapan menit di Blue is the Warmest Color bukan alat pemancing gairah seksual penonton,
tapi berguna sebagai alat observasi karakter. Kita diajak melihat bagaimana
hasrat yang timbul dalam hubungan dua karakter utamanya, bagaimana pula passion dalam percintaan wanita muda
yang nafsunya terus dipendam. Untuk kesan romantisme serupa silahkan tunggu A Copy of My Mind-nya Joko Anwar yang
bakal menampilkan Tara Basro dan Chico Jerikho berhubungan seks, lengkap dengan
sperma keluar dari pal-kon sang
aktor. Joko Anwar hanya pamer gaya? Bisa, tapi itu sama saja Nikita Mirzani
adalah seorang guru ngaji. Mungkin? Ya mungkin, tapi hampir mustahil. Lalu apa
substansi “Keluarga Bahagia” sehingga diisi beberapa adegan seks yang (katanya)
vulgar?
Silahkan tunggu yang satu ini
Bayangkan semua itu dikemas secara simbolik, mungkin penonton akan
bergumam “oh indahnya..!”, tapi apakah mereka tertohok oleh realita yang
dipaparkan? Bisa saja, tapi tidak sebesar itu.
Keindahan bertutur juga bisa
merusak esensi rasa yang coba dibangun. Rasa bahwa tidak seindah itu konflik
yang tengah disajikan. Menyajikan konflik raw secara indah bagi saya sama saja membuat kisah tentang Ir. Soekarno sang proklamator yang
penuh semangat tapi dikemas secara mellow.
Tidak selaras. Itu salah satu alasan kenapa sineas asal Denmark, Lars von Trier memunculkan gerakan Dogma 95 yang berisikan film-film dengan production value rendah cenderung amatiran (mayoritas diambil dengan Canon 550D). Film-film tersebut (ex: Festen, The Idiots) ceritanya banyak "menelanjangi" kehidupan sehari-hari secara kasar dan apa adanya. Lars von Trier percaya metode tersebut lebih kuat untuk mengikat penonton karena mereka tidak terdistraksi oleh production value yang tinggi, sehingga hanya berfokus pada cerita serta karakter.
"The Idiots"
Banyak pula yang
beranggapan “Keluarga Bahagia” tidak berbeda dengan porno. Lagi-lagi saya
bingung, kali ini dengan pengertian porno. Semua pernah menonton film porno,
tapi apakah ada yang konten seksualnya tidak sampai 25%? Bahkan Nymphomaniac dengan presentase adegan
seks tidak sampai 40% saja bukanlah sebuah porno. Kata porn merujuk pada dominasi suatu aspek yang dieksploitasi dalam
suatu karya. Sebagai contoh, Saw itu
disebut torture-porn dan Chef adalah food-porn. Bahkan untuk masuk ranah genre “eksploitasi” pun
pementasan ini tidak bisa digolongkan pada sexploitation
(Nymphomaniac saja belum masuk
kategori ini). Entah itu porn maupun exploitation baru bisa disematkan pada
sebuah sajian yang didominasi secara berlebih oleh suatu aspek. Bisa saja
“Keluarga Bahagia’ masuk dalam sexploitation,
tapi lebih merujuk pada kentalnya unsur disorientasi seksual, bukannya
pemaparan adegan seks yang vulgar. Sebagai perbandingan silahkan tonton
drama-thriller asal Prancis berjudul Stranger
by the Lake, salah satu film dengan
penyajian seksual paling vulgar yang pernah saya tonton, dimana itu juga belum
masuk kategori pornografi.
Percayalah ini BUKAN PORNO
Artikel ini bukan bermaksud
memberikan pembelaan bahwa naskah tersebut adalah naskah yang bagus. Tentu
banyak kekurangan, dan perkara suka atau tidak itu sudah terserah masing-masing
penonton. Jika ada yang berkomentar tentang struktur plot, karakterisasi atau
dialog, saya pun merasakan kekurangan serupa. Apa yang saya garis bawahi dalam
tulisan ini adalah bagaimana banyak pihak memberikan “cap” yang sama sekali
tidak akurat. Hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk kasus “realis atau
surealis” di 'Romantika dalam Gelap' dua tahun lalu, tapi pembahasan tentang
itu rasanya sudah kadaluarsa.
Sedangkan bagi kalian semua yang ingin berkarya
khususnya dalam penulisan, tidak perlulah takut akan tanggapan miring jika ada
esensi kuat yang coba dituturkan. Asal kalian
merasa adanya keterikatan/setuju terhadap sesuatu yang coba diangkat, sah-sah
saja. Masih begitu banyak aspek kehidupan di luar sana yang belum sempat
tergali karena dianggap tidak layak oleh masyarakat luas.
Pentas
Besar KRST tahun 2015 ini mengusung naskah garapan Rasyid Harry dengan lakon
“Keluarga Bahagia”. Naskah hasil buah pikir Rasyid dan Iqbal—sebagai
sutradara—ini berisi tentang kehidupan sebuah keluarga seperti pada umumnya.
Hanya saja, dalam cerita ini, Rasyid mengambil sudut pandang lain dari makna
sebuah keluarga. Sebuah keluarga dengan masalah yang mungkin sebenarnya
dimiliki oleh beberapa keluarga pada umumnya, namun tidak diutarakan ke publik
karena alasan moral dan norma. Yah, begitulah sekiranya salah satu bagian dari
informasi yang ingin KRST sampaikan pada penonton melalui pementasan pada hari
sabtu, 6 juni 2015 lalu. Pementasan yang dilaksanakan di Stage Tari Tedjokusumo
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut membuahkan
hasil yang cukup memuaskan, baik untuk penonton maupun keluarga besar Keluarga Rapat
Sebuah Teater sendiri.
wefie. teater kekinian :D
diskusi terbuka pasca pentas
Sedikit
mengulas tentang proses dibalik pementasan “Keluarga Bahagia”, tentu saja yang
paling menarik perhatian adalah kesediaan aktor untuk memerankan dan
mempertunjukkan isi naskah yang dianggap cukup “vulgar” untuk dihadirkan keatas
panggung. Proses seleksi pemain tidak berlangsung mudah, tetapi konsep yang
ditawarkan oleh Iqbal akhirnya mampu meyakinkan ke-6 aktor untuk kemudian lanjut
memainkan peran yang ditawarkan. Awal berjalannya proses cukup berat. Tidak
dipungkiri pula bahkan beberapa panitia penyelenggara sedikit meragukan isi
naskah tersebut. Tapi proses tidaklah bermakna tanpa kerikil-kerikil
didalamnya. Keberhasilan akan terasa begitu manis ketika berhasil melewati
kerikil-kerikil itu. Hal itu pula yang dirasakan oleh KRST, terutama tim
“Keluarga Bahagia”.
latihan di G400
evaluasi pasca gladi bersih
credits pasca pentas (dok. BPPM Psikomedia)
Proses
ini berlangsung kurang lebih 6 bulan, terhitung sejak November 2014. Seluruh kerja
keras tim produksi dan artistik tentunya memberikan pengaruh sangat besar dalam
keberhasilan pentas besar ke-9 KRST tersebut. Kurang lebih 50 orang yang turut
menuangkan tenaga, pikiran, dan semangatnya kedalam proses ini. KRST juga
bekerja sama dengan Teater Sangkala, selaku tuan rumah Fakultas Bahasa dan Seni
UNY, Sanggar 28 Terkam, ISI Yogyakarta, dan beberapa komunitas kampus serta
kerabat KRST. Hal menarik lainnya juga tertuju pada kreativitas yang tertuang
pada setting rumah yang dihadirkan
oleh sutradara diatas panggung. Begitu realis, begitu meyakinkan, seolah-olah
membawa penonton kedalam kehidupan keluarga yang ada dipanggung itu.
Detail-detail menarik seperti lukisan, patung kepala, hingga benda kuno seperti
gramofon juga tak luput dari perhatian. Pentas ini terbilang berani dan sukses.
Mengangkat realitas yang dianggap tabu keatas panggung dan memberikan suguhan
yang benar-benar nyata tanpa adanya keraguan sedikitpun, jelas menjadi sebuah
prestasi tersendiri bagi sutradara. Bagi Iqbal selaku Sutradara, naskah “Keluarga
Bahagia” ini memiliki begitu banyak makna yang harus disampaikan dan dirasakan,
baik untuk semua penonton dan juga dirinya sendiri.
Namun,
tentu saja setiap perjalanan menemukan pelajaran. Begitu banyak hal yang dapat
diambil dan diperbaiki dalam proses kali ini. Banyak pula nilai-nilai yang bisa
ditegakkan yang telah dihadirkan oleh pementasan ini. Semoga saja apapun itu
yang telah dihadirkan dan dipersembahkan oleh KRST, dapat menjadi kebaikan
tersendiri, yang kemudian hari bisa berbalik dan menyempurnakan diri KRST.
Teruslah
belajar, teruslah berusaha, teruslah berkarya. Salam budaya! SHOW MUST GO ON!
Meskipun kami adalah Badan Kegiatan Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Psikologi UGM, tidak selalu tiap kegiatan kami didanai oleh Fakultas. Oleh karenanya, seringkali, dengan sumber daya manusia seadanya, kami menerima tawaran job dari luar, yang kadang-kadang berimbal fresh money. Yah, hitung-hitung untuk memperbesar nominal uang kas, yang nantinya bisa memperlancar gestur-merogoh-kocek kami, dalam berkesenian.
Berangkat dari tawaran-tawaran yang ada, kami juga mencoba untuk terus meningkatkan kualitas diri. Karena saya berasumsi kami dicari karena kami bisa, maka dari itu, kami tidak boleh bercanda. Bagi kami semua adalah proses. Dengan atau tanpa kontraprestasi, semua pasti ada manfaatnya untuk pengembangan diri dan organisasi.
Sejauh ini, tawaran job yang datang cukup bervariasi. Seringnya adalah permintaan untuk tim musik kami. Pernah diminta untuk main di acara seminar tingkat internasional, pernah juga main menghibur adik-adik pasien di rumah sakit. Pernah diminta main untuk ngisi wisudaan kampus, juga beberapa kali main di pernikahan. Pernah main di reunian, pernah juga main di acara syawalan. Selain musik, terkadang tim tari dan teater juga bisa dapat tawaran. Pernah jadi mime untuk gerakan sosial, pernah juga jadi simbolisasi teatrikal untuk pengumuman juara lomba tingkat nasional. Pernah juga jadi aksi pembuka dan penutup acara turnamen olahraga.
Konsep penerimaan job ini barangkali juga bisa ditilik keberangkatannya dari kondisi administrasi pementasan yang kurang-lebih agak hobi defisit. Maka dari itu, hepeng kami putar. Berproses, untuk berproses lebih jauh lagi.
"Semua itu proses," pukas seorang kakak yang masih memikirkan kami.
dari melakukan yang seperti ini..
kami bisa buat yang seperti ini...
Semua ini tanpa ada niat sedikitpun mengurangi apa yang menjadi tujuan kami: menjadi wadah kreasi. Serta menjadi doa agar kami selalu ingat akan kami.
Kalau boleh, tulisan ini saya tutup dengan mengutip lirik salah satu lagu Slank, 'Mars Slankers':
Tahun ini mahasiswa Psikologi UGM memiliki ide ‘liar’ dalam
melaksanakan ospek fakultas. Kegiatan yang salah satu tujuannya adalah
menyambut mahasiswa baru (maba) ini kita sebut PRK (Psikologi Rumah Kita). Tahun ini,
KRST mendapat kehormatan untuk berkontribusi secara langsung dalam konsep baru yang diusung panitia ospek. KRST ditunjuk untuk membuat sebuah jingle untuk PRK yang nantinya akan dinyanyikan oleh para maba sebagai lagu tema dari keseluruhan acara ospek dan juga sebagai cerminan tujuan PRK tahun ini.
Akhirnya tim perumus jingle pun disusun, dan terdiri dari Vikra, Aga, Rifki, Tunggul, Bella, dan Nisa. Prosesnya cukup simple tapi hasilnya bisa kami banggakan. Vikra, Aga, Rifki dan Tunggul berproses di bagian aransemen musik, sedangkan Nisa bertanggung jawab dalam membuat gerakan, dibantu oleh Bella, yang juga berkontribusi besar dalam pembuatan lirik.
Berdasarkan arahan dari panitia PRK, kami hanya membuat 3/4 dari keseluruhan lirik. Kami sengaja mengosongkan bait ketiga untuk nantinya diisi lirik dan gerakannya oleh para maba.
Buat kamu yang penasaran seperti apa hasilnya, bisa langsung di cek disini atau bisa tonton video yang kami buat untuk maba di bawah ini:
Nah, yang menarik dari proses ini adalah kegiatan kami ketika hari H, yaitu pada tanggal 20-21 Agustus. Kami kira awalnya kami cukup membuat lagu dan merekamnya lalu nanti ketika PRK akan playback saja. Semacam acara Dahsy*t. Ternyata panitia meminta kami untuk mengiringi para maba bernyanyi dan menari secara langsung. Langsung. Dengan musik live. Itu artinya kami harus standby di kampus dari pukul 05.00 pagi, selama 2 hari berturut-turut. Karena sebagian besar dari kami sadar diri akan kelemahan dalam bangun pagi, kami memutuskan untuk menginap di kampus.
Akhirnya selama 2 hari berturut-turut, kami tidur berempat (Vikra, Aga, Rifky, Tunggul) di Bilik yang kecil nan hangat, lalu bangun jam 4 pagi, lalu mandi bergantian, lalu angkat-angkat satu set drum, 3 ampli, gitar, bass, 2 preamp, dan kibord, lalu checksound, lalu standby menunggu maba datang. Terimakasih sebelumnya kepada Afif yang bertindak sebagai manajer yang selalu turut hadir tiap pagi dengan aqua dan roti. Sangat membnantu.
Biasanya kami mulai main sekitar pukul 7 pagi. Ini lucu, sebab dimana fakultas lain membuka ospeknya dengan upacara dan sebagainya, kami membuka ospek dengan band-band-an. Sangar.
Yang membuat kami cukup puas dengan proses satu ini ialah respon positif yang datang berbondong-bondong dari berbagai kalangan. Testimoni seperti "wah jinglenya bagus banget", "musiknya asik!", "keren!" cukup akrab kami dengar. Bahkan di hari pertama kami memainkan jingle tersebut, Pak Rahmat selaku Wakil Dekan bidang Aset dan Pengembangan terlihat ikut manggut-manggut mengikuti beat dari musik yang kami mainkan. Dan juga Pak Naryo selaku protokoler fakultas, ikut mengabadikan kami dengan video kameranya. Setelahnya baru kami tahu bahwa para dosen dan staf sangat mendukung budaya ini dan khususnya menyukai jingle-nya.
Bahkan kami juga sempat diliput oleh surat kabar kampus lho..
Pada hari
Minggu, 17 Agustus 2014 kemarin, KRST kembali diundang Intelektualita Luar biasa kan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik
Indonesia, tapi sayangnya bukan untuk tugas kenegaraan, melainkan menjadi pengisi acara halal bi halal berkat hasil promosi salah satu dedengkot kita, Mas Henri Arkan atau lebih dikenal dengan panggilan Mas Hengheng. Acara ini dilaksanakan di Pondok
Puspita di daerah Alun-Alun Kidul. Kali ini Vikra (keyboard), Endi (bass), Aris (gitar),
Tunggul (kajon), Monic, dan Ovin (vocal) yang siap membawakan lagu-lagu era
90-an.
Lebih dari 30
lagu sudah disiapkan semenjak H-1 nge-job.
Kostum merah untuk vokalis diusung supaya semangat kemerdekaan dan suasana
hangat dapat terbangun. Pukul 08.00 para personil sudah bersiap di kampus,
pukul 10.30 cuss, dan pukul 11.00
sudah ready to perform di venue yang berumput. Karena diadakan di
taman terbuka jadi semacam garden party
gitu, suasana pepohonan rindang dan sepoi angin menemani alunan lagu yang
dimainkan. Halal bi halal ini dihadiri oleh kira-kira 40 orang. Tidak sedikit
hadirin yang ikut bernyanyi bersama sembari menikmati santap siang. Acara ini
juga dimeriahkan oleh open mic dari
MC dan pembagian doorprize unik.
Beberapa personil kita ada yang dapet
sabun sama keset lho. Hahaa… Tuan rumah puas, kita senang.
Salah satu pengalamanyang seru, Fams! Pokoknya always enjoy what you do and you’ll be happy then. Salam masuk akal! J
bu monica terpantau sedang memberi arahan sebelum manggung, "jadi tuh entar gas pol aja!!"
cek mental sebelum pergi manggung. sepertinya tidak sehat.
Pada 20 September lalu, KRST menyambut keluarga baru (mahasiswa Psikologi UGM angkatan 2013) dengan mengadakan acara tahunan "KPDYTC". Pentas ini menampilkan sebuah karya dari Silviani (Psi '12) yang berjudul "Sandar Rapuh". Dengan Afra selaku pemeran utama, pentas ini berhasil menghidupkan suasana di auditorium G-400 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
persiapan di G400
Sebagai bentuk penyambutan, KRST menempatkan tiga kelompok mime yang bertugas mengarahkan penonton menuju lokasi pementasan. Mime ini merepresentasikan tiga bentuk cinta yang berbeda.
lantai tiga: mime representasi cinta pada keluarga
lantai dua: mime representasi cinta pada kekasih
lantai satu: mime representasi cinta pada sahabat
Pementasan yang menggambarkan kehidupan sebagai seorang mahasiswa ini melibatkan seluruh trah (divisi) yang berada di KRST, yakni Trah Seni Pertunjukkan (seni musik, seni tari, keaktoran, dan lighting), Trah Seni Rupa (make up, kostum, dan setting properti), serta Trah Media Rekam (publikasi dan dokumentasi).
Di akhir pementasan, KRST meminta penonton yang kebanyakan merupakan mahasiswa baru untuk membentuk lingkaran. Afra sebagai kepala keluarga KRST pun memberikan sambutan dan ucapan selamat bagi mereka karena telah mencapai jenjang baru, yakni perkuliahan.
Di akhir rangkaian acara, seluruh panitia dan penonton menyatukan tangan untuk meneriakkan slogan KRST. Selanjutnya, kami pun berfoto bersama.
Setelah event AASP, KRST berkesempatan untuk ikut melepas salah satu anggota keluarga, Mas Putra (2008) dalam acara wisuda S1 yang diadakan di G-100 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Persiapan dilakukan bersamaan dengan berakhirnya event AASP pada 24 Agustus 2013 lalu.
Via dan Ama pada vokal, Tunggul pada gitar, Vikra pada keyboard, Debby pada bass, Aji pada cajon, serta Monic dan Aga sebagai sound engineer berhasil menghibur 55 mahasiswa S1 yang dilepas pada hari itu. Para dosen, orang tua mahasiswa, dan panitia yang terlibat dalam acara juga mengaku puas pada penampilan KRST. Salah satu panitia bahkan berkomentar, “Penampilannya bagus. Suara vokalisnya keren-keren ya.”