Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 April 2017

Malam dan Perjamuan Makan Malam


lalu malam memakanku pelan-pelan
di antara perjamuannya yang mewah
di antara perjamuannya yang megah

dan malam melumatku bulat-bulat
di dalam perhelatannya yang kelam
di dalam perhelatannya yang kejam

sehingga malam menguntalku kental-kental
di bawah perayaannya yang sepat
di bawah perayaannya yang sesat

maka aku tenggelam dalam-dalam
di malam dan perjamuannya yang lengang

eF_A, Juli 2017

Rabu, 11 Maret 2015

Ingatlah, ketika hujan..

Selamat semuanya!
Selamat atas tahun baru yang indah. 
Selamat atas setiap pertemuan, setiap perpisahan. Dan selamat atas hujan yang terus mengguyur bumi untuk kembali ditanami.

Aku yakin bumi berbahagia.
Seperti kita yang berbahagia atas kesempatan menggembur diri bersama hujan. 
Kita yang terus melembutkan diri agar sanggup digali lebih dalam sekaligus menguatkan diri agar mampu menopang bibit yang sedang tumbuh dalam diri kita.

Ketika suatu hari kau kelelahan karna hantaman demi hantaman menghujam tanpa ampun, tersenyumlah karna lelahmu adalah perjuangan.
Pahamilah bahwa setiap layu dalam tatap adalah keindahan. 
Setiap dentum di telinga adalah sebuah pelajaran. 
Setiap deras dalam tubuh adalah sebuah kesempatan.

Kesempatan untuk menunjukkan apa yang selama ini ada dalam imaji. 
Memperdengarkan apa yang terus kita lagukan dalam pikiran. 
Mengutarakan kalimat yang tidak siap terucap. 
Menarikan syair yang kita buat bersama hari-hari yang kita lalui. 
Merasakan indahnya pelangi setelah badai pergi.

Yakinlah bahwa hujan akan membawa kita berlayar jauh. 
Tambatkan hatimu pada nikmatnya udara yang memutihkan nafas, sekaligus menggemakan gemeletuk seolah haus bergerak. 
Berirama.
Bantu hujan merasuki diri kita, meletupkan wangi petrichor yang dicintai setiap manusia penikmat aroma.

Dan aku,
terus menemanimu menerima setiap titik sebagai apapun yang kau butuhkan.
Hingga hantaman hujan menjelma menjadi rintik, 
lalu menguap bersama angin yang menghantarkan kita pada pelangi yang dirindu-rindukan, 
sebelum datang hujan berikutnya.

Penuh cinta,
Monica Indriyani
Kepala Keluarga