Jumat, 19 Juni 2015

Kinarya Citra Leka


Bagi saya, ini termasuk penampilan musik paling memuaskan selama saya berproses di KRST. Waktu itu tawaran datang dari teman-teman Fisipol UGM jurusan Hub. Internasional selaku penyelenggara. Kami diberi ketentuan untuk membawakan lagu mancanegara.

Band dadakan ini dihiasi oleh saya (gitar/kibord), Aga (gitar), Debby (bass), Putra (perkusi), dan Dennis (vokal). Pilihan lagu kami jatuh kepada 'Volare' oleh Gypsy Kings dan 'Let's Do It (Let's Fall in Love)' oleh Canal Fowkes.

Tidak puas dengan hanya bermain musik, kami sepakat bahwa kami ingin tampil beda. Maka pada H-1, Aga Dennis dan Putra bertandang ke Pasar Beringharjo dan membelikan kami berlima baju barong dengan warna yang berbeda-beda. Alhasil, the crowd loves us!

Acara diadakan di selasar GOR Klebengan, dan kami mendapat urutan tampil pas sebelum bintang tamu, yet the crowd loves us more. Video-nya bisa anda cek disini:


Mucho gracias!


Kamis, 18 Juni 2015

Seksualitas dalam "Keluarga Bahagia"


Pernah pada sebuah kesempatan saya terlibat pembicaraan dengan seorang kawan. Rencananya kita akan membuat sebuah film dengan konten kekerasan yang tinggi. Dia tahu bahwa salah satu kegemaran saya adalah sajian penuh kekerasan dengan berliter-liter galon darah menjadi bagian esensial. Tidak hanya tahu, dia bahkan memberikan dukungan, dimana salah satu bentuknya adalah bersedia untuk terlibat dalam proses tersebut. Kemudian hadir pementasan “Keluarga Bahagia”, dan kawan saya tersebut memberikan kritik tentang keberadaan konten seksual yang (katanya) tinggi dalam naskah tulisan saya itu. Kekhawatiran mulai dari aspek seksual yang dianggap tidak substansial, hingga merasa pementasan tersebut hanya akan berujung sebagai tontonan porno diutarakan. Respon pertama saya adalah bingung, “kenapa orang yang bisa menerima sajian kekerasan eksplisit justru gerah dengan seksualitas vulgar?” Apakah artinya kekerasan jauh lebih bisa diterima daripada seks? Mungkin begitu. Sebagai contoh adalah The Raid. Film itu mendapat puja puji masyarakat karena kekerasan yang ditampilkan, tapi coba ganti sisi brutal tersebut dengan seks. Apakah respon positif juga yang akan muncul?

Ganti darah dengan cairan lain berwarna putih, apakah respon sama?
Berkaca pada “Keluarga Bahagia”, banyak pihak beranggapan adegan seks bisa dikemas lebih implisit atau bahasa mereka “lebih artistik”. Kata “artistik” khususnya di Indonesia pengertiannya bisa begitu buram. Seringkali demi membuat suatu karya yang artistik, sang maker melupakan substansi dan lebih mementingkan gaya, istilahnya style over substance. Entah sudah berapa banyak karya visual (khususnya film) yang mengorbankan kekuatan penceritaan hanya demi berfokus menyajikan gambar-gambar indah. Tengok saja 5 cm dengan segala keindahan panorama alam tapi ceritanya busuk. Atau kalau berkaca pada Hollywood silahkan lihat romansa adaptasi novel Nicholas Sparks yang sinematografinya top-notch tapi ceritanya seperti dibuat oleh anak SMP galau yang setiap hari menulis puisi untuk wanita idamannya tapi tidak pernah punya keberanian untuk mendekati--maksimal hanya masturbasi.

"Dear John"; gambar indah, cerita payah
Intinya adalah substansi. Adegan seks eksplisit selama delapan menit di Blue is the Warmest Color bukan alat pemancing gairah seksual penonton, tapi berguna sebagai alat observasi karakter. Kita diajak melihat bagaimana hasrat yang timbul dalam hubungan dua karakter utamanya, bagaimana pula passion dalam percintaan wanita muda yang nafsunya terus dipendam. Untuk kesan romantisme serupa silahkan tunggu A Copy of My Mind-nya Joko Anwar yang bakal menampilkan Tara Basro dan Chico Jerikho berhubungan seks, lengkap dengan sperma keluar dari pal-kon sang aktor. Joko Anwar hanya pamer gaya? Bisa, tapi itu sama saja Nikita Mirzani adalah seorang guru ngaji. Mungkin? Ya mungkin, tapi hampir mustahil. Lalu apa substansi “Keluarga Bahagia” sehingga diisi beberapa adegan seks yang (katanya) vulgar? 

Silahkan tunggu yang satu ini
Bayangkan semua itu dikemas secara simbolik, mungkin penonton akan bergumam “oh indahnya..!”, tapi apakah mereka tertohok oleh realita yang dipaparkan? Bisa saja, tapi tidak sebesar itu. 

Keindahan bertutur juga bisa merusak esensi rasa yang coba dibangun. Rasa bahwa tidak seindah itu konflik yang tengah disajikan. Menyajikan konflik raw secara indah bagi saya sama saja membuat kisah tentang Ir. Soekarno sang proklamator yang penuh semangat tapi dikemas secara mellow. Tidak selaras. Itu salah satu alasan kenapa sineas asal Denmark, Lars von Trier memunculkan gerakan Dogma 95 yang berisikan film-film dengan production value rendah cenderung amatiran (mayoritas diambil dengan Canon 550D). Film-film tersebut (ex: Festen, The Idiots) ceritanya banyak "menelanjangi" kehidupan sehari-hari secara kasar dan apa adanya. Lars von Trier percaya metode tersebut lebih kuat untuk mengikat penonton karena mereka tidak terdistraksi oleh production value yang tinggi, sehingga hanya berfokus pada cerita serta karakter.

"The Idiots"
Banyak pula yang beranggapan “Keluarga Bahagia” tidak berbeda dengan porno. Lagi-lagi saya bingung, kali ini dengan pengertian porno. Semua pernah menonton film porno, tapi apakah ada yang konten seksualnya tidak sampai 25%? Bahkan Nymphomaniac dengan presentase adegan seks tidak sampai 40% saja bukanlah sebuah porno. Kata porn merujuk pada dominasi suatu aspek yang dieksploitasi dalam suatu karya. Sebagai contoh, Saw itu disebut torture-porn dan Chef adalah food-porn. Bahkan untuk masuk ranah genre “eksploitasi” pun pementasan ini tidak bisa digolongkan pada sexploitation (Nymphomaniac saja belum masuk kategori ini). Entah itu porn maupun exploitation baru bisa disematkan pada sebuah sajian yang didominasi secara berlebih oleh suatu aspek. Bisa saja “Keluarga Bahagia’ masuk dalam sexploitation, tapi lebih merujuk pada kentalnya unsur disorientasi seksual, bukannya pemaparan adegan seks yang vulgar. Sebagai perbandingan silahkan tonton drama-thriller asal Prancis berjudul Stranger by the Lake,  salah satu film dengan penyajian seksual paling vulgar yang pernah saya tonton, dimana itu juga belum masuk kategori pornografi.

Percayalah ini BUKAN PORNO
Artikel ini bukan bermaksud memberikan pembelaan bahwa naskah tersebut adalah naskah yang bagus. Tentu banyak kekurangan, dan perkara suka atau tidak itu sudah terserah masing-masing penonton. Jika ada yang berkomentar tentang struktur plot, karakterisasi atau dialog, saya pun merasakan kekurangan serupa. Apa yang saya garis bawahi dalam tulisan ini adalah bagaimana banyak pihak memberikan “cap” yang sama sekali tidak akurat. Hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk kasus “realis atau surealis” di 'Romantika dalam Gelap' dua tahun lalu, tapi pembahasan tentang itu rasanya sudah kadaluarsa. 

Sedangkan bagi kalian semua yang ingin berkarya khususnya dalam penulisan, tidak perlulah takut akan tanggapan miring jika ada esensi kuat yang coba dituturkan. Asal kalian merasa adanya keterikatan/setuju terhadap sesuatu yang coba diangkat, sah-sah saja. Masih begitu banyak aspek kehidupan di luar sana yang belum sempat tergali karena dianggap tidak layak oleh masyarakat luas. 

(Rasyid R. Harry)

Rabu, 17 Juni 2015

Mengulas Proses: Pentas Besar 'Keluarga Bahagia'


Pentas Besar KRST tahun 2015 ini mengusung naskah garapan Rasyid Harry dengan lakon “Keluarga Bahagia”. Naskah hasil buah pikir Rasyid dan Iqbal—sebagai sutradara—ini berisi tentang kehidupan sebuah keluarga seperti pada umumnya. Hanya saja, dalam cerita ini, Rasyid mengambil sudut pandang lain dari makna sebuah keluarga. Sebuah keluarga dengan masalah yang mungkin sebenarnya dimiliki oleh beberapa keluarga pada umumnya, namun tidak diutarakan ke publik karena alasan moral dan norma. Yah, begitulah sekiranya salah satu bagian dari informasi yang ingin KRST sampaikan pada penonton melalui pementasan pada hari sabtu, 6 juni 2015 lalu. Pementasan yang dilaksanakan di Stage Tari Tedjokusumo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut membuahkan hasil yang cukup memuaskan, baik untuk penonton maupun keluarga besar Keluarga Rapat Sebuah Teater sendiri.

wefie. teater kekinian :D

diskusi terbuka pasca pentas
Sedikit mengulas tentang proses dibalik pementasan “Keluarga Bahagia”, tentu saja yang paling menarik perhatian adalah kesediaan aktor untuk memerankan dan mempertunjukkan isi naskah yang dianggap cukup “vulgar” untuk dihadirkan keatas panggung. Proses seleksi pemain tidak berlangsung mudah, tetapi konsep yang ditawarkan oleh Iqbal akhirnya mampu meyakinkan ke-6 aktor untuk kemudian lanjut memainkan peran yang ditawarkan. Awal berjalannya proses cukup berat. Tidak dipungkiri pula bahkan beberapa panitia penyelenggara sedikit meragukan isi naskah tersebut. Tapi proses tidaklah bermakna tanpa kerikil-kerikil didalamnya. Keberhasilan akan terasa begitu manis ketika berhasil melewati kerikil-kerikil itu. Hal itu pula yang dirasakan oleh KRST, terutama tim “Keluarga Bahagia”.

latihan di G400

evaluasi pasca gladi bersih

credits pasca pentas (dok. BPPM Psikomedia)
Proses ini berlangsung kurang lebih 6 bulan, terhitung sejak November 2014. Seluruh kerja keras tim produksi dan artistik tentunya memberikan pengaruh sangat besar dalam keberhasilan pentas besar ke-9 KRST tersebut. Kurang lebih 50 orang yang turut menuangkan tenaga, pikiran, dan semangatnya kedalam proses ini. KRST juga bekerja sama dengan Teater Sangkala, selaku tuan rumah Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Sanggar 28 Terkam, ISI Yogyakarta, dan beberapa komunitas kampus serta kerabat KRST. Hal menarik lainnya juga tertuju pada kreativitas yang tertuang pada setting rumah yang dihadirkan oleh sutradara diatas panggung. Begitu realis, begitu meyakinkan, seolah-olah membawa penonton kedalam kehidupan keluarga yang ada dipanggung itu. Detail-detail menarik seperti lukisan, patung kepala, hingga benda kuno seperti gramofon juga tak luput dari perhatian. Pentas ini terbilang berani dan sukses. Mengangkat realitas yang dianggap tabu keatas panggung dan memberikan suguhan yang benar-benar nyata tanpa adanya keraguan sedikitpun, jelas menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi sutradara. Bagi Iqbal selaku Sutradara, naskah “Keluarga Bahagia” ini memiliki begitu banyak makna yang harus disampaikan dan dirasakan, baik untuk semua penonton dan juga dirinya sendiri.

Namun, tentu saja setiap perjalanan menemukan pelajaran. Begitu banyak hal yang dapat diambil dan diperbaiki dalam proses kali ini. Banyak pula nilai-nilai yang bisa ditegakkan yang telah dihadirkan oleh pementasan ini. Semoga saja apapun itu yang telah dihadirkan dan dipersembahkan oleh KRST, dapat menjadi kebaikan tersendiri, yang kemudian hari bisa berbalik dan menyempurnakan diri KRST.


Teruslah belajar, teruslah berusaha, teruslah berkarya. Salam budaya! SHOW MUST GO ON!

(Eka Anggraini, 2015)


Rabu, 11 Maret 2015

Ingatlah, ketika hujan..

Selamat semuanya!
Selamat atas tahun baru yang indah. 
Selamat atas setiap pertemuan, setiap perpisahan. Dan selamat atas hujan yang terus mengguyur bumi untuk kembali ditanami.

Aku yakin bumi berbahagia.
Seperti kita yang berbahagia atas kesempatan menggembur diri bersama hujan. 
Kita yang terus melembutkan diri agar sanggup digali lebih dalam sekaligus menguatkan diri agar mampu menopang bibit yang sedang tumbuh dalam diri kita.

Ketika suatu hari kau kelelahan karna hantaman demi hantaman menghujam tanpa ampun, tersenyumlah karna lelahmu adalah perjuangan.
Pahamilah bahwa setiap layu dalam tatap adalah keindahan. 
Setiap dentum di telinga adalah sebuah pelajaran. 
Setiap deras dalam tubuh adalah sebuah kesempatan.

Kesempatan untuk menunjukkan apa yang selama ini ada dalam imaji. 
Memperdengarkan apa yang terus kita lagukan dalam pikiran. 
Mengutarakan kalimat yang tidak siap terucap. 
Menarikan syair yang kita buat bersama hari-hari yang kita lalui. 
Merasakan indahnya pelangi setelah badai pergi.

Yakinlah bahwa hujan akan membawa kita berlayar jauh. 
Tambatkan hatimu pada nikmatnya udara yang memutihkan nafas, sekaligus menggemakan gemeletuk seolah haus bergerak. 
Berirama.
Bantu hujan merasuki diri kita, meletupkan wangi petrichor yang dicintai setiap manusia penikmat aroma.

Dan aku,
terus menemanimu menerima setiap titik sebagai apapun yang kau butuhkan.
Hingga hantaman hujan menjelma menjadi rintik, 
lalu menguap bersama angin yang menghantarkan kita pada pelangi yang dirindu-rindukan, 
sebelum datang hujan berikutnya.

Penuh cinta,
Monica Indriyani
Kepala Keluarga

Kamis, 26 Februari 2015

Memandang Definisi 'Film yang Bagus'


Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul terkait sebuah film adalah "bagus nggak?" Tentu jawaban yang muncul akan beragam, tergantung sudut pandang mana yang dipakai oleh penonton. Tapi adakah pakem standar yang bisa digunakan untuk menilai suatu film secara general


Saya jawab: tidak ada. Argumen umum tentang seperti apa film bagus seringkali meliputi akting bagus, naskah kuat, sampai gambar oke. Tapi benarkah semua itu ukuran baku? Sebagai contoh, mari menuju perbandingan antara The Evil Dead (1981) dengan The Woman in Black (2012). Secara teknis termasuk sinematografi, film kedua jauh lebih unggul. Secara cerita pun lebih berbobot karena hadirnya latar belakang karakter dan sebagainya. Teknik makeup pun sama, karena film pertama punya riasan murah yang sangat buruk. Belum lagi bicara akting. Daniel Radcliffe jelas jauh di atas Bruce Campbell yang overacting. Tapi disaat The Evil Dead dianggap sebagai salah satu film horror terbaik sepanjang masa, kenapa The Woman in Black justru direspon biasa saja? 

Rabu, 17 September 2014

Proses, untuk Proses

Meskipun kami adalah Badan Kegiatan Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Psikologi UGM, tidak selalu tiap kegiatan kami didanai oleh Fakultas. Oleh karenanya, seringkali, dengan sumber daya manusia seadanya, kami menerima tawaran job dari luar, yang kadang-kadang berimbal fresh money. Yah, hitung-hitung untuk memperbesar nominal uang kas, yang nantinya bisa memperlancar gestur-merogoh-kocek kami, dalam berkesenian.

Berangkat dari tawaran-tawaran yang ada, kami juga mencoba untuk terus meningkatkan kualitas diri. Karena saya berasumsi kami dicari karena kami bisa, maka dari itu, kami tidak boleh bercanda. Bagi kami semua adalah proses. Dengan atau tanpa kontraprestasi, semua pasti ada manfaatnya untuk pengembangan diri dan organisasi.

Sejauh ini, tawaran job yang datang cukup bervariasi. Seringnya adalah permintaan untuk tim musik kami. Pernah diminta untuk main di acara seminar tingkat internasional, pernah juga main menghibur adik-adik pasien di rumah sakit. Pernah diminta main untuk ngisi wisudaan kampus, juga beberapa kali main di pernikahan. Pernah main di reunian, pernah juga main di acara syawalan. Selain musik, terkadang tim tari dan teater juga bisa dapat tawaran. Pernah jadi mime untuk gerakan sosial, pernah juga jadi simbolisasi teatrikal untuk pengumuman juara lomba tingkat nasional. Pernah juga jadi aksi pembuka dan penutup acara turnamen olahraga.

Konsep penerimaan job ini barangkali juga bisa ditilik keberangkatannya dari kondisi administrasi pementasan yang kurang-lebih agak hobi defisit. Maka dari itu, hepeng kami putar. Berproses, untuk berproses lebih jauh lagi.

"Semua itu proses," pukas seorang kakak yang masih memikirkan kami.

dari melakukan yang seperti ini..

kami bisa buat yang seperti ini...

Semua ini tanpa ada niat sedikitpun mengurangi apa yang menjadi tujuan kami: menjadi wadah kreasi. Serta menjadi doa agar kami selalu ingat akan kami.
Kalau boleh, tulisan ini saya tutup dengan mengutip lirik salah satu lagu Slank, 'Mars Slankers':

Disini tempat cari senang
Salah tempat kalau kau cari uang
Disini orang-orang penuh kreativitas
Tempat orang-orang yang survive

Seks dalam Karya itu Bagus; or is it just Me?

Seks bisa jadi adalah sebuah kata yang dianggap saru sampai "menyeramkan" bahkan untuk orang-orang yang sudah layak disebut dewasa seperti para mahasiswa. Banyak teman-teman di sekitar saya yang menganggap seks adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan apalagi diangkat kedalam sebuah karya seperti pementasan ataupun film. Lewat sebuah opini yang saya masih kurang bisa pahami, banyak dari mereka mengatakan bahwa seks tidak atau kurang pantas disajikan dalam karya khususnya bila terlalu vulgar. Saya setuju jika seks yang nyata memang tidak kurang pantas dipertontonkan tapi bukankah yang dipertontonkan dalam karya tersebut bukanlah orang yang sungguh-sungguh berhubungan seks? 

Blue is the Warmest Color film lesbian dengan sebuah adegan seks sekitar 8 menit
Belum lagi jika kita bicara masalah seksual yang (dianggap) menyimpang seperti berbagai bentuk fetish dan disorder lainnya seperti incest dan lain-lain. Yang saya tangkap justru banyak dari mereka termasuk yang berkuliah di fakultas psikologi menganggap semua itu sebagai hal gila, menjijikkan, tidak pantas diangkat bahkan sampai menutup mata akan keberadaan hal-hal tersebut. Padahal bukankah semua itu harusnya menjadi pekerjaan dan makanan sehari-hari mahasiswa di fakultas yang menjunjung individual differences dan humanisme itu? Ada juga yang bersuara budaya ketimuran kita ini tidak pantas dipertontonkan hal semacam itu? Ya, semua itulah yang pada akhirnya berujung ketidak tahuan dan kebodohan kita semua terhadap hal-hal berbau disorientasi seksual. 

Padahal sebutan "disorientasi" yang mereka katakan itu artinya adalah sesuatu yang abnormal, dan sesuatu yang tidak normal/penyakit bukankah seharusnya disembuhkan? Bagaimana bisa menyembuhkan sesuatu yang tidak kita ketahui apa? Yang pada akhirnya sering terjadi adalah para pemilik fetish dan disorder itu dianggap sebagai orang aneh dan menjijikkan.... bahkan oleh psikolog/calon psikolog yang seharusnya menolong mereka (kalau memang mereka memang harus ditolong).

Nymphomaniac, film tentang perempuan dengan adiksi seksual yang bagai rangkuman jurnal tentang sexual disorder
Banyak yang terlalu takut mendapat cap "saru" dan "gila" sehingga tidak berani mengangkat hal-hal berbau seksual. Banyak dari mereka yang takut mendapat cap itu adalah orang yang selalu rutin berangkat kuliah, mengerjakan tugas dan menekuni akademis dengan baik...dan aneh memang jika mereka takut mendapat cap sebagai ganti memberikan edukasi dan berpendapat secara bebas. Apakah itu bodoh? Mungkin saja, tapi yang pasti bagi saya ketakutan itu turut memberi kontribusi dalam "pembodohan" masyarakat. Lalu jika bicara tentang seks dalam karya, bagi saya asalkan karya itu tidak dibuat hanya untuk memancing birahi penikmatnya semacam porno, maka tidak masalah walaupun sevulgar apapun. Jika nantinya ada yang terangsang itu tidak apa-apa, asalkan apa yang ingin kita sampaikan diterima dengan baik oleh penonton. Misalkan kita ingin menunjukkan seorang yang depresi dan melampiaskannya lewat seks. Jika adegan seksnya membuat penonton terangsang tapi mereka bisa merasakan sisi depresi sang karakter, maka itu sah-sah saja dan karya kita artinya berhasil. 

Moebius, film dengan seks dan incest yang mengeksplorasi disfungi kelaurga dan depresi dalam tingkatan ekstrim
Saya tidak terangsang atau setidaknya melupakan rangsangan seksual yang saya dapat saat menonton film-film vulgar seperti Shame, Blue is the Warmest Color, Nymphomaniac atau Moebius karena segala pesan dan konten cerita yang disampaikan para sutradara berhasil sampai dan "mengalahkan" segala rangsangan seksualnya. Jika ada yang tertinggal itu adalah hasrat kuat yang ditunjukkan oleh karakter dalam film-film tersebut dan bukannya sekedar "adegan seksnya hot ya". Seks merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, bahkan hasrat dalam psikologi merupakan salah satu pondasi dasar cinta, jadi mengapa tidak mau mengangkat sesuatu yang sangat alamiah bagi kita? Masih banyak lagi yang ingin saya sampaikan mengenai "Seks dalam Karya" tapi rasanya akan terlalu panjang, silahkan temui saya di bilik KRST jika ingin ada yang ingin didiskusikan panjang lebar tentang itu, saya akan amat sangat senang mendapat teman bicara tentunya. Kesimpulannya, seks dalam karya itu bagus, asalkan tidak sekedar mengumbar adegan erotis dan sensual tanpa tujuan....or is it just me?

(Rasyid R. Harry)