Jumat, 25 Mei 2012

REMAKE, REUSE DAN REPLAY DALAM PSYCHART

Keluarga Rapat Sebuah Teater kembali mencoba mengadakan sebuah even yang berbeda dan unik. Setelah sebelumnya mengadakan acara Panggung Bebas untuk pertama kalinya, kali ini KRST kembali membuat sebuah acara yang sebelumnya belum pernah kami adakan yakni Psychart. Pada dasarnya Psychart adalah sebuah acara musik. Namun apa keunikan dari acara ini adalah mengenai konsepnya yang mengusung recycle atau daur ulang. Pemikiran dasar acara ini adalah didasari dari obrolan santai kami tentang begitu banyaknya sampah-sampah tak terurus yang ada disekitar kami. Jika hanya menggalakkan "buanglah sampah pada tempatnya" mungkin kami rasa hal itu masih belum cukup kuat untuk bisa mengurangi jumlah sampah. Harus ada suatu hal yang membuat orang-orang tergerak atau kalau bisa tertarik untuk tidak asal membuang sampah tersebut. Dari situ tercetuslah ide untuk membuat sebuah acara yang bertemakan recycle.

Dalam acara ini akan ada dua jenis perlombaan. Perlombaan yang pertama adalah sebuah lomba band namun yang memberikan perbedaan adalah dalam satu grup harus ada alat musik yang dibuat dari barang bekas apapun itu bentuknya. Kemudian masing-masing grup yang maksimal terdiri dari 8 orang harus menampilkan sebuah aransemen musik yang maksimal berdurasi 10 menit dengan catatan dalam aransemen tersebut penggunaan alat musik yang dibuat dari barang bekas harus lebih dominan dibandingkan alat musik lainnya. Untuk perlombaan ini biaya pendaftarannya adalah Rp. 35.000,-/grup. Pemenang akan ditentukan oleh pilihan juri. Sedangkan untuk lomba yang kedua adalah lomba untuk me-recycle barang bekas untuk menjadi sebuah alat musik tanpa harus mereka mainkan. Untuk lomba ini peserta tiap kelompok maksimal 2 orang dan mereka akan memamerkan barang yang mereka buat tanpa memainkannya. Untuk perlombaan yang kedua ini biaya pendaftaraan adalah Rp. 10.000,-/kelompok dan pemenangnya akan ditentukan oleh voting yang dilakukan para penonton. Kemudian adalah mengenai hadiah yang akan diberikan pada pemenang. Untuk lomba pertama (perform musik) Juara pertama akan mendapat hadiah Rp. 500.000,- kemudian juara kedua Rp. 300.000,- dan juara ketiga mendapat Rp. 200.000,-. Sedangkan untuk lomba kedua (pameran alat musik) hadiah akan diberikan kepada SATU kelompok yang mendapat voting terbanyak alias favorit penonton dan akan mendapat hadiah Rp. 100.000,-.

Selasa, 08 Mei 2012

Paparan Seni Bebas Melalui Panggung Bebas


Pada hari Jumat tanggal 4 Mei 2012 lalu, KRST mengadakan sebuah acara bernama "Panggung Bebas" yang diadakan di kantin Fakultas Psikologi. Seperti namanya, acara tersebut memang merupakan sebuah pertunjukkan seni yang bebas dan tidak terbatas dalam media apapun. Bahkan untuk pengisi acaranya juga termasuk bebas dimana tidak hanya anak-anak KRST ataupun mahasiswa Psikologi saja yang tampil namun ada juga penampilan dari komunitas DAC (Deaf Art Community) dan penampilan dari beberapa anak ISI Yogyakarta.

Acara ini sebenarnya tidak ada dalam program kerja KRST, namun harus diakui bahwa acara-acara macam ini justru sangat penting untuk menyalurkan bakat-bakat ataupun ide terpendam untuk disalurkan secara bebas. Acara dimulai pada pukul 17.00 dan dibukan dengan berbagai penampilan musik. Yang menarik dari para penampil-penampil tersebut banyak yang berasal dari angkatan 2011. Hal ini menunjukkan antusiasme dan apresiasi para mahasiswa baru tersebut akan seni amatlah besar.

Rabu, 04 April 2012

SEPOTONG KISAH YANG MENGAWALI PERJALANAN

Sejarah itu sangatlah relatif dan tak pelak sering menimbulkan berbagai versi yang mungkin juga tidak akan diketahui kebenaran pastinya oleh para generasi sekarang yang mendapat warisan sejarah tersebut. Jadi dibawah ini mungkin hanyalah secuil kisah yang dituturkan oleh salah seorang yang menjadi saksi bagaimana kekeluargaan di teater rapat ini terbentuk. Tentu saja semuanya diawali dengan sebuah pertemuan. Saat itu pertengahan 1993 dan beberapa mahasiswa tengah mengobrol di sebelah Timur gedung pusat yang kemudian dilanjutkan di bonbin. Obrolan saat itu adalah mengenai teater. Kebetulan salah satu dari mereka yang bernama Didik sedang begitu antusias dalam ber-teater dan hal itu telah dia komunikasikan dengan teman-temannya seperti Heng Heng, Seto, Fauzil dan Sus Budiarto. Lalu dilanjutkan dengan perkenalan antara Heng Heng dengan Hendro, maka komposisi awal dari Teater Rapat terbentuk dengan tambahan juga dari Ery serta Iwan Agis. Pertemuan pertama mereka lalu terjadi di lapangan selatan dan berlanjut di koridor fakultas.

Kemudian Heng Heng membawa naskah "Kwek-kwek" karya Anton Chekhov yang kemudian akan menjadi pementasan perdana dari KRST. Audisi lalu diadakan dimana Heng Heng sebagai sutradara memilih pemain-pemainnya yang kemudian didapat Hendro, Sony, Didik dan Iwan Agis, lalu ada Ery yang menjadi pimpro. Mulailah latihan di teras gedung timur fakultas. Sedikit berbelok ke masalah nama, nama Rapat sendiri tidak diketahui pasti siapa yang mengusulkan nama tersebut. Sampai saat ini tidak ada yang tunjuk jari soal nama dan filosofinya. Maka hal tersebut masihlah menjadi misteri hingga sekarang.